Ibadah Haji dan Inflasi Kesalehan Musiman

Bagikan : X

 


FENOMENA yang lucu sekaligus menggelisahkan dalam pengalaman haji—mudah-mudahan tidak teralami semua orang—adalah grafik kesalehan yang melonjak tajam di Tanah Suci, lalu menukik dramatis setelah pulang ke Tanah Air. 

Di Tanah Suci, semua orang seperti sedang berada dalam “mode ibadah full baterai”. Yang biasanya bangun subuh perlu tiga kali bunyi alarm, di sana bangun sebelum alarm sempat bunyi. Yang biasanya shalat sunnah hanya kadang-kadang kalau sempat, tiba-tiba jadi rajin. Yang di rumah mudah tersinggung karena antrean, di sana disikut, didorong, bahkan diinjak koper orang lain, masih bisa tersenyum sambil bilang, “Tidak apa-apa, ini ujian.” Nah, pertanyaannya, kenapa versi terbaik diri kita itu sering hanya muncul di sana dan ketika di Tanah Air kembali kepada “aslinya”?

Jawabannya agak tidak enak didengar: karena suasana mendukung. Saat itu semua orang di sekitar kita melakukan hal yang sama. Tidak ada yang aneh kalau kita tiba-tiba rajin. Justru yang aneh kalau kita malas. Lingkungan di Tanah Suci bekerja seperti arus deras yang menyeret kita ke arah kesalehan. Mau tidak mau, kita ikut terbawa.

Ini ibarat kita berdiri di tengah orang-orang yang semuanya berlari. Walaupun awalnya ingin jalan santai, lama-lama kita ikut berlari. Bukan karena kita berubah jadi atlet, tapi karena suasananya “memaksa”. Nah, di Tanah Suci, arusnya adalah arus kebaikan. Semua orang bergerak menuju ibadah. Tanpa sadar, kita ikut terangkat. Mirip seperti ketika kita ikut seminar motivasi. Di dalam ruangan, kita merasa siap mengubah hidup. Mau bangun jam empat pagi. Mau olahraga tiap hari. Mau membaca satu buku per minggu.

Tapi, begitu keluar ruangan, kena macet, lihat notifikasi pekerjaan, bertemu rutinitas lama—semangat itu mulai berkurang.

Bukan karena kita berkamuflase, tapi karena baterai suasana sudah habis. Di sinilah letak keanehan yang sering tidak kita sadari. Kita mengira perubahan itu milik kita, padahal sebagian besar adalah “sumbangan dari lingkungan”. Selama di Tanah Suci, kita seperti meminjam energi spiritual kolektif. Semua orang sedang baik, maka kita jadi baik. Semua orang sabar, maka kita jadi sabar. Semua orang khusyuk, maka kita jadi khusyuk. Kita merasa ini hasil perjuangan pribadi, padahal sebenarnya kita sedang berdiri di atas karpet berjalan yang membawa kita maju. Celakanya, karpet itu tidak ikut kita pulang. Begitu kembali ke rumah, kita masuk ke lingkungan lama.

Grup WhatsApp yang isinya debat kusir. Pekerjaan yang menumpuk. Tetangga yang parkir sembarangan. Jalanan yang macet.

Di sini, tidak ada lagi arus besar yang mendorong kita. Kita harus berjalan dengan kaki sendiri. Dan di sinilah sering terjadi penurunan tekanan spiritual. Yang “saat itu” mudah menangis saat doa, sekarang mulai kembali ke mode “ya sudah, cepat saja”. Yang dulu sabar luar biasa, sekarang mulai klakson-klakson di jalan. Memang, grafiknya tidak anjlok dalam satu hari, tapi perlahan turun. Ibarat balon yang kempes, memerlukan waktu untuk habis angin. Lucunya, kita sering kaget sendiri. “Lah, kok saya tidak seperti waktu di sana ya?” Padahal jawabannya mudah banget, karena di sana kita didukung oleh suasana, di sini kita diuji tanpa suasana.

Tidak Sia-sia Ini bukan berarti pengalaman di Tanah Suci sia-sia. Justru sebaliknya. Itu seperti demo versi terbaik diri kita. Kita sudah pernah melihat bahwa kita bisa menjadi lebih sabar, lebih disiplin, malah dekat dengan Tuhan.

Artinya, potensi itu ada. Apa yang terjadi di Tanah Suci itu nyata. Kesabaran yang muncul, air mata yang jatuh, rasa ringan untuk berbuat baik—semua itu bukan ilusi.

Itu mungkin adalah versi diri kita yang sebenarnya. Hanya saja selama ini tertutup rutinitas dan kebisingan hidup. Haji seperti membuka tirai, “Ini loh, kamu bisa jadi seperti ini.” Masalahnya, kita sering mengira pengalaman itu akan otomatis permanen. 

Padahal tidak. Ia lebih mirip starter pack, bukan produk jadi. Kita sudah diberi contoh rasa, tinggal dilanjutkan atau tidak. Kalau tidak, kita akan terjebak dalam siklus kesalehan musiman. Kita begitu baik di tempat suci, namun biasa di tempat sendiri. Seolah-olah kesalehan itu hanya berlaku di titik koordinat geografis tertentu. 

Kita diuji untuk mampu membawa “Makkah kecil” ke dalam kehidupan sehari-hari. Caranya tentu bukan dengan meniru suasana secara total.

Jadi, persoalannya bukan pada naik-turunnya grafik. Itu mah manusiawi. Yang penting adalah apakah ada sisa yang menetap. Karena kalau semuanya hilang, itu seperti kita pergi jauh, mengeluarkan biaya besar, mengalami hal luar biasa—lalu pulang tanpa membawa apa-apa kecuali foto dan cerita.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/06/080100765/ibadah-haji-dan-inflasi-kesalehan-musiman?page=3.

 

Tidak ada komentar

Posting Komentar