Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita baru saja meninggalkan bulan Ramadan, yakni sebuah momentum yang masih sangat dekat suasana peningkatan iman dan taqwa kita. Maka melalui mimbar Khatib mengajak diri khotib pribadi dan kepada kita semua Mari sama-sama kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, taqwa dengan makna menjalankan segala perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi apa-apa yang Allah larang kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari.
Salawat dan salam Mari kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam, semoga dengan memperbanyak salawat kepadanya kita akan mendapatkan syafaat di Yaumil akhir kelak, Amin ya robbal alamin .
Dalam bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Pertanyaan besar bagi kita adalah, apakah amal ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah atau tidak? Bukankah para Salafus Shalih berdoa 6 bulan lamanya Setelah Ramadan agar amal ibadahnya diterima selama bulan suci Ramadan kemudian 6 bulan lamanya berdoa agar disampaikan umurnya kepada bulan Ramadan maka kita sebagai seorang mukmin tentu harus bertanya apakah ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ataukah tidak? Lantas kalau memang diterima apa tanda-tandanya bahwa ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah adanya perubahan ke arah kebaikan setelahnya.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17)
Artinya, orang yang amalnya diterima akan bertambah kebaikannya, bukan kembali kepada keburukan.
Berikut ini adalah tanda-tanda Diterimanya amal Ramadan:
Pertama, Istiqamah Dalam Ketaatan.
Yakni beribadah dengan secara terus-menerus bukan hanya di bulan Ramadan saja. Di luar Ramadan, kita tentu harus dapat menjaga salat berjamaah kita, kemudian juga membaca Al Qur’an yang tidak hanya intensitasnya tinggi ketika di bulan Ramadan, tetapi juga di luar Ramadan dan juga ibadah-ibadah lainnya. Maka istiqomah dalam ketaatan ini dapat dimaknai dengan tetap menjaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Meninggalkan Maksiat.
Jika setelah Ramadan seseorang meninggalkan dosa, itu tanda baik. Bulan Ramadan tentu adalah bulan suci, yang mana kita menjaga diri kita dari perbuatan-perbuatan maksiat, maka di luar Ramadan, orang yang meninggalkan kemaksiatan adalah orang-orang yang benar-benar mengisi Ramadannya dengan ibadah maka dari ibadah itu dia dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang bersifat maksiat.
Ketiga, Takut Amal Tidak Diterima
Orang beriman justru khawatir amalnya ditolak. Karena dengan apapun ibadah yang kita kerjakan tentu hanya Allah lah yang dapat menerima ataupun menolak ibadah kita. Maka untuk itu bagi para ahli ibadah, tentu adalah orang yang takut akan ibadahnya, tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Dari ayat di atas, kita pahami bahwa mereka yang hatinya takutlah kepada Allah, yang takut juga ibadahnya tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala tentu keikhlasan dalam beribadah, ini semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala yang melahirkan rasa takut tersebut.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat, Semakin Semangat Berbuat Kebaikan.
Puasa Ramadan menjadi awal, bukan akhir ibadah. Akan tetapi Ramadan, bisa menjadi titik awal kebaikan bagi seseorang dalam menjalankan ibadahnya di luar bulan suci Ramadan. Banyak diantara kita memulai kedekatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bulan suci Ramadan. Maka ini sangat menjadi hal positif bagi pribadi kita masing-masing untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan lebih semangat lagi dalam beribadah dan berbuat kebaikan serta menghidupkan Ramadan di luar bulan Ramadan.
Akan tetapi kita harus waspada apabila yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, jika setelah Ramadan seseorang kembali meninggalkan salat, kembali bermaksiat, tidak ada perubahan sama sekali, maka itu tanda bahwa amalnya perlu dipertanyakan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat yang singkat ini, semoga menjadi pegangan bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkhusus ini masih dalam suasana Syawal yang belum lama kita meninggalkan bulan suci Ramadan. Mari kita jaga amal Ramadan kita dengan istiqamah, karena Allah tidak melihat banyaknya amal, tetapi keikhlasan dan keberlanjutannya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى
أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى
أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.
وقال الله تعالى في كتابه الكريم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Tidak ada komentar
Posting Komentar